Tambrauw– Nelayan Pencari Gurita Kejadian tragis menimpa seorang nelayan asal Desa Nguluran, Gunung Kidul, Yogyakarta, yang ditemukan tewas setelah beberapa hari dilaporkan hilang. Nelayan bernama Eko Prasetyo (38) ini diketahui hilang pada hari Kamis (27/11), saat tengah mencari gurita di sekitar perairan Pantai Nguluran, salah satu pantai yang terkenal dengan potensi kekayaan lautnya. Proses pencarian yang melibatkan tim SAR, kepolisian, dan relawan akhirnya membuahkan hasil pada Minggu pagi (2/12), ketika jasad Eko ditemukan di sekitar tepi pantai dalam kondisi tak bernyawa.
Kehilangan Eko mengguncang komunitas nelayan lokal, karena ia dikenal sebagai sosok pekerja keras dan penuh dedikasi yang sehari-hari menggantungkan hidupnya dari hasil laut. Kejadian ini bukan hanya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan teman-temannya, tetapi juga menambah daftar panjang kecelakaan yang menimpa nelayan di wilayah pesisir selatan Jawa yang dikenal memiliki ombak dan cuaca yang tak terduga.
Nelayan Pencari Gurita Kronologi Kejadian: Kepergian yang Tiba-tiba
Eko Prasetyo diketahui berangkat pada Kamis pagi untuk melaut mencari gurita, komoditas yang cukup bernilai tinggi di pasar lokal dan luar daerah. Biasanya, Eko dan sejumlah nelayan lainnya mencari gurita dengan menyelam di perairan sekitar Pantai Nguluran menggunakan alat tradisional yang sederhana. Namun, pada hari itu, Eko tidak kembali sesuai dengan waktu yang dijanjikan, dan keluarganya mulai khawatir setelah beberapa jam menunggu.

“Saya sempat menunggu sampai malam, tapi Eko belum juga pulang. Biasanya ia selalu tepat waktu, apalagi kalau tidak mendapatkan hasil yang banyak. Waktu sudah semakin larut, dan saya mulai cemas,” ujar Wati, istri Eko, dalam keterangannya. “Saya langsung menghubungi tetangga dan melaporkan ke pihak berwenang.”
Setelah mendapatkan laporan dari keluarga korban, pihak Polsek Tanjungsari yang membawahi wilayah tersebut langsung melakukan pencarian pada malam harinya. Tim SAR dan nelayan setempat juga ikut bergabung untuk mencari Eko di sekitar area pantai dan laut. Kondisi gelombang yang cukup tinggi serta ombak besar di perairan sekitar Pantai Nguluran mempersulit proses pencarian, namun upaya tersebut terus dilakukan tanpa lelah.
Pencarian yang Menegangkan: Tim SAR dan Relawan Bekerja Keras
Pencarian yang dilakukan oleh tim SAR Gabungan sempat terhambat oleh cuaca buruk dan arus laut yang kuat. Namun, pada Minggu pagi (2/12), sekitar pukul 06.30 WIB, jasad Eko akhirnya ditemukan tidak jauh dari bibir pantai, di wilayah perairan yang cukup dalam. Tim SAR yang sebelumnya telah menyisir beberapa titik di sekitar pantai langsung mengevakuasi jenazah Eko.
“Kami menemukan jenazah Eko dalam kondisi yang sudah membengkak, tetapi tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya. Kami menduga bahwa ia terjebak dalam arus laut yang kuat dan tidak bisa kembali ke pantai,” jelas Kepala SAR Gunung Kidul, Agus Supriyanto, dalam wawancara setelah penemuan jenazah tersebut.
Setelah dievakuasi, jenazah Eko langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari untuk dilakukan visum. Polisi dan pihak keluarga sudah menerima bahwa penyebab kematian Eko adalah karena kecelakaan laut, mengingat kondisi tubuh yang ditemukan tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan, dan sesuai dengan keterangan saksi yang menyebutkan bahwa Eko tidak berhasil kembali ke permukaan setelah menyelam.
Kehilangan yang Membekas: Keluarga dan Komunitas Nelayan Terpukul
Kepergian Eko menjadi kehilangan besar bagi keluarga dan komunitas nelayan di Pantai Nguluran. Eko dikenal sebagai sosok yang ramah dan rajin bekerja. Ia meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Keluarganya mengaku sangat terpukul dengan kejadian ini, mengingat Eko adalah tulang punggung keluarga.
“Saya masih tidak percaya bahwa Eko pergi begitu saja. Dia selalu ceria dan tak pernah mengeluh tentang pekerjaannya. Kehilangan ini sangat berat bagi kami, terutama untuk anak-anak yang masih membutuhkan dia,” kata Wati, dengan suara bergetar. “Kami berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi, karena banyak nelayan lain yang juga mencari nafkah di laut.”
Kepergian Eko juga menyisakan duka mendalam di kalangan rekan-rekan sesama nelayan yang bekerja di Pantai Nguluran. Mereka mengenang Eko sebagai pekerja keras yang selalu membantu dan berbagi ilmu dengan sesama nelayan.
“Dia memang orang yang baik. Selalu berbagi tips cara mencari gurita dan saling membantu ketika ada yang kesulitan. Kami sangat kehilangan sosoknya,” ujar Budi, salah satu teman dekat Eko yang juga seorang nelayan.
Faktor Risiko Pekerjaan Nelayan: Laut yang Tak Menentu
Kehilangan Eko kembali mengingatkan kita tentang risiko tinggi yang dihadapi oleh para nelayan tradisional, terutama di kawasan pesisir selatan Jawa yang terkenal dengan ombak besar dan arus laut yang tidak terduga. Meskipun pekerjaan ini menawarkan pendapatan yang cukup besar, namun potensi bahaya di laut selalu mengintai, terutama bagi mereka yang tidak menggunakan peralatan canggih atau modern.
“Nelayan di Pantai Nguluran biasanya menggunakan alat tradisional untuk menangkap ikan atau gurita. Sementara itu, kondisi alam di laut selatan bisa sangat berbahaya, dengan ombak besar dan cuaca yang berubah-ubah. Ini adalah risiko yang harus dihadapi oleh setiap nelayan,” ujar Yudi, seorang aktivis lingkungan yang peduli terhadap keselamatan nelayan.
Selama ini, keselamatan para nelayan tradisional sering kali terabaikan. Banyak nelayan yang tidak memiliki alat keselamatan yang memadai, seperti pelampung atau GPS. Selain itu, minimnya pelatihan mengenai keselamatan di laut dan pengetahuan tentang cuaca juga menjadi faktor risiko yang sering mengancam jiwa mereka.
Dukungan Pemerintah dan Komunitas: Harapan untuk Masa Depan
Menanggapi tragedi ini, pihak pemerintah daerah Gunung Kidul berjanji akan memberikan perhatian lebih terhadap keselamatan nelayan. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Gunung Kidul, Haryanto, mengatakan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan komunitas nelayan dan organisasi non-pemerintah untuk memberikan pelatihan keselamatan dan meningkatkan fasilitas penunjang keselamatan bagi nelayan.
















