
Tambrauw – Sultan Jogja Pamer Kunjungan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ke Yogyakarta berlangsung hangat ketika Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, membagikan sebuah kisah menarik tentang peran pasukan tradisional dalam menjaga ketertiban. Dalam pertemuan itu, Sultan dengan santai menceritakan bagaimana kehadiran Raja Manggala, salah satu pasukan tradisional Keraton, berhasil meredam situasi massa yang sempat memanas di wilayahnya.
Kunjungan Kapolri Bahas Stabilitas Keamanan
Kedatangan Kapolri ke Yogyakarta bertujuan untuk memperkuat koordinasi keamanan jelang sejumlah agenda nasional. Dalam sesi dialog bersama para tokoh daerah, Sultan Yogyakarta menjelaskan pentingnya pendekatan kearifan lokal dalam menjaga stabilitas, termasuk peran lembaga adat yang masih dipertahankan hingga kini.
Sultan menegaskan bahwa Yogyakarta memiliki karakter masyarakat yang kuat akan budaya dan simbol-simbol kerajaan. Karena itu, strategi keamanan di wilayah ini tidak selalu harus melalui pendekatan represif, tetapi dapat pula mengandalkan nilai budaya yang telah hidup ratusan tahun.
Cerita Sultan: Raja Manggala Turun, Massa Langsung Tenang

Baca Juga : Operasi Zebra Semeru 2025 Dimulai, Ini Kata Dirlantas Polda Jatim
Dalam pertemuan tersebut, Sultan berbagi pengalaman ketika massa di salah satu wilayah DIY sempat memanas akibat kesalahpahaman. Saat potensi kerusuhan meningkat, pasukan Raja Manggala—kesatuan pengamanan tradisional Keraton—diturunkan ke lokasi.
Menurut Sultan, hal itu bukan perintah formal melainkan bagian dari tradisi Keraton untuk menjaga keseimbangan sosial. Yang menarik, begitu pasukan tersebut hadir dengan pakaian adat dan formasi khasnya, situasi yang sebelumnya tegang mendadak mereda. Massa yang tadinya berteriak dan bergerak agresif seketika menahan diri.
“Begitu mereka melihat pasukan itu, langsung diam semua. Mereka menghormati,” ujar Sultan dalam obrolan santai kepada Kapolri. Ia menambahkan bahwa kehadiran simbol kerajaan masih sangat dihargai warga, terutama generasi yang memahami budaya Jawa dan sejarah panjang Keraton Yogyakarta.
Kapolri Apresiasi Pendekatan Humanis Berbasis Budaya
Mendengar cerita tersebut, Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengapresiasi pendekatan keamanan berbasis nilai budaya yang diterapkan di Yogyakarta. Menurutnya, pengalaman itu dapat menjadi contoh bagaimana keamanan tidak selalu harus bergantung pada pengerahan aparat dalam jumlah besar.
Kapolri menilai keberadaan pasukan tradisional yang dihormati masyarakat bisa menjadi kekuatan tambahan dalam menjaga harmoni sosial. Ia menekankan pentingnya sinergi antara kepolisian, pemerintah daerah, serta lembaga adat sebagai bagian dari sistem keamanan yang holistik.
Raja Manggala, Pasukan Tua yang Masih Dihormati
Pasukan Raja Manggala merupakan salah satu kelompok pengamanan tradisional Keraton Yogyakarta yang dikenal sangat disiplin dan lekat dengan nilai sejarah. Meski tidak berfungsi sebagai aparat negara, kehadirannya sering memberi pengaruh psikologis pada masyarakat yang memahami simbol-simbol adat.
Beberapa sejarawan menyebut pasukan ini memiliki peran penting sejak masa kerajaan, digunakan untuk menjaga raja dan meredam konflik internal pada masa lampau. Karena itu, masyarakat yang tinggal di sekitar Yogyakarta memiliki keterikatan emosional yang tinggi terhadap mereka.
Harmoni Sosial sebagai Kekuatan Yogyakarta
Sultan menegaskan bahwa kunci keamanan di Yogyakarta terletak pada keseimbangan antara pendekatan formal dari aparat negara dan pendekatan budaya yang mempertahankan kearifan lokal. Menurutnya, model pengelolaan sosial berbasis tradisi inilah yang membuat Yogyakarta selalu dikenal sebagai daerah yang aman dan kondusif.
“Selama masyarakat masih memegang nilai-nilai budaya dan menghormati simbol-simbolnya, kita bisa menjaga ketertiban dengan lebih mudah,” kata Sultan.
Penutup
Kisah Sultan Yogyakarta kepada Kapolri mengenai ampuhnya pasukan Raja Manggala meredam massa bukan sekadar cerita menarik. Ini menjadi gambaran bagaimana Yogyakarta memadukan tradisi dan modernitas dalam menjaga keamanan. Perpaduan kearifan lokal dan profesionalisme aparat negara terbukti mampu menciptakan situasi yang kondusif, sekaligus menjadi teladan bahwa budaya dapat menjadi kekuatan luar biasa dalam merawat kedamaian.















